Kita Sudah Terlalu Manja

Dijaman dahulu, semua serba sulit dan tidak mudah. Banyak hal yang harus diperjuangkan dahulu sebelum bisa didapatkan. Kita mau makan rendang saja mungkin harus memarut kelapa dulu, memeras jadi santan, menyiapkan bumbu-bumbu lain, memotong daging dan memasaknya. Akan tetapi sekarang dengan mudah kita akan beli bumbu jadi dan bum! Langsung jadi rendang.

Kalau kita mau membuat makanan jajanan tradisional. Misalnya lemet (ini sepertinya malah asing bagi sebagian besar pembaca sekalian. Ini membutuhkan tepung yang harus dibuat dulu, dibungkus daun kelapa yang masih muda, pakai sapu lidi untuk mengunci kerucutnya, gula merah dan sebagainya. Tidak ada yang instan di masa lalu. Semua harus diupayakan sendiri dan dikerjakan sendiri.

Kita kalau pergi ke suatu tempat jaman dahulu seperti jarak jogja  surabaya bisa3 hari 3 malam dengan kuda. Hari ini mobil pribadi saja bisa 6-7 jam, atau kereta 5 jam. Pesawat lagi cuman 40 menit. Atau tidak usah jauh2 lah, kalau kita mau kerumah teman yang berjarak 1 km, jelas kita akan naik sepeda kayuh atau jalan kaki.

Tapi apa yang terjadi hari ini. Kita malas namanya berjalan kalau udah lebih dari 15menit. Sedikit-sedikit naik motor, sedikit-sedikit langsung keluarkan mobil. Angkot lah , becaklah, andong lah, padahal kakek dan orang-orang kita dahulu mereka bisa saja 100km bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Kenapa sekarang kita bisa menjadi tidak sabaran? Kepingin segala sesuatu serba instan? Tidak mau repot-repot

Kita minum kopi jaman dahulu bisa saja, masih harus metik sendiri kopinya, jemur sendiri, giling sendiri, seduh dan baru bisa diminum. Sekarang hari ini kita tinggal beli sache aja udah nyuruh-nyuruh orang lain untuk membelikan dan masih nyuruh untuk menyeduhkan. Kenapa kita sekarang tidak mau menjalani proses?

Bukankah proses itu mendewasakan dan mematangkan? Kita bisa lebih mengerti arti kata kesabaran, kita lebih tahu soal makna perjuangan, kita lebih memahami soal perubahan tidak bisa sekejab? Kenapa kita telah kehilangan esensinya? Semua berlomba-lomba untuk sukses. Semua berlomba-lomba untuk jadi orang kaya, semua mencoba banyak cara dan banyak yang gagal. Banyak yang stress banyak yang menyerah mundur sebelum bisa mendapatkan apa yang di impikan.

Kenapa kita sekarang mudah menyerah?  Kenapa kita mau serba instan termasuk kesuksesan? Orang seperti dikarbit ketika mendengarkan kesuksesan orang lain. Apalagi sekarang banyak motivator-motivator handal yang  bisa membuat Anda termotivasi secara instan. Yang bisa merubah secara instan. Trus dimana letak proses dan perubahan alamiahnya? Karena seminar merupakan bagian dari dunia instan

Tidak semua instan buruk. Trauma bisa langsung disembuhkan dengan cepat itu bagus. Orang punya kebiasaan buruk langsung hilang seketika itu bagus. Tetapi tidak ada kesuksesan instan.

Terlalu banyak cerita yang saya dapatkan dari beberapa email yang masuk kesaya bahwa mereka sekarang telah habis-habisan. Kehilangan banyak harta dan waktu karena telah mencoba untuk sukses secara instan. Membuka usaha dengan cepat dan menggunakan keahlian instan. Hasilnya nya pun juga instan. Langsung tutup pada bulan ke 3. Kenapa orang tidak mau berproses?

Ibarat sebuah permainan sepak bola. Kadang kita harus menunggu 2×45 menit untuk sebuah goal yang cantik. Kita rela menunggu setiap proses terciptanya sebuah goal. Kita menunggu jam malam, kadang subuh, menahan kantuk, hanya untuk sebuah proses terciptanya sebuah goal. Kita akan kehilangan esesi dari sebuah proses ketika kita melihat highlight, atau cuplikan pertandingan tersebut. Kita bahkan sudah lebih kehilangan kenikmatan tayangan langsung, eforia kemenangan ketika kita harus menonton tunda. Tidakah asyik melihat bola dipassing-pasing, usaha-usaha yang gagal, jatuh bangun ,mengejar bola, berebutan peluang dan mengapai kemenangan.

Kerjasama team yang sangat dibutuhkan, kemampuan individu yang saling mengisi satu dengan yang lainnya, menyusun sebuah serangan, mempertahankan pertahanan demi sebuah kemenangan. Permainan cantik, permainan buruk semua adalah proses pematangan dari sebuah kemenangan. Mau menang, mau kalah, mau seri tetapi itulah perjuangan yang harus di jalani. Proses akan sebuah perjalanan menuju hasil akhir. Bukan hanya sekedar score atau kemenangan saja, tetapi disinilah proses memegang peranan kenikmatan yang lebih tinggi dari pada sekedar melihat team kita menang.

Bukankah proses itu pematangan jiwa, badan  ragawi, mental dan keteguhan niat. Orang yang tidak niat selalu dalam 1 bulan awal pasti akan jatuh dan tidak akan bangkit lagi. Kalau orang yang memang berminat dan memiliki kekuatan yang teguh pasti akan bangkit berdiri dan mencoba lagi. Seberapa banyak kejatuhan dan kegagalan yang dialami akan bangkit berdiri dan memcoba untuk meraih kesuksesan pada langkah berikutnya. Ini lah proses!

Kenapa kita tidak belajar dari kupu-kupu yang mau berproses dari menjadi ulat dan kepompong telebih dahulu. Menderita karena harus berjuang untuk keluar dari kepompongnya, merobek cangkangnya, melangkah keluar dari lubang yang sempit, menggerakan tubuhnya yang masih lemah tidak berdaya. Harus bangkit berdiri dan mengepakan sayapnya sesaat dia baru saja lahir kembali.

Semua kupu-kupu yang dibantu untuk menyelesaikan proses metamorfosisnya, pasti akan mati dan tidak berbentuk sempurna (cek buku saya reBorn). Tidakah kita juga harus menikmati semua proses yang ada dan mencoba untuk menjalaninya.

Tidak ada kesuksesan instan. Hanya kopi dan mi instan lah yang bisa instan. Itupun masih harus diseduh terlebih dahulu. Kenapa kita mau dalam sekian bulan langsung kaya? Kenapa kita mau langsung dalam berapa minggu langsung punya banyak uang?

Kita telah dimanjakan tehnologi, kita telah dimanjakan oleh sistem, kita telah dilenakan oleh kemajuan jaman. Mungkin alangkah baiknya kita kembali ke masa lalu. Memahami cara kerja orang dahulu, proses bertumbuh kembang orang tua kita, moyang kita dalam menjalani hidup semua mau menjalaninya secara sepenuh hati dan menghayati maknanya.

Orang tua kita pernah hidup kesusahan tidak ada hp, tidak ada telepon tidak ada mobil, tidak ada pesawat masih bisa hidup dan menghidupi kita. Masih bisa menikmati hidup dan dan mampu menjadikan kita hari ini. Kenapa sekarang kita menjadi lemah dan termanjakan? Mudah mengeluh dan mudah menyerah?

Apakah kita kehilangan esensi perjuangan ketika semua menjadi mudah dan gampang untuk diupayakan?

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

2 Responses to “Kita Sudah Terlalu Manja”

  1. Sangat Inspiratif mari kita berusaha menjadi hidup kembali mau sabar dan berusaha terus tiada henti sampai tercapai apa yg sdh jadi target… untuk lebih sukses lbh baik demi orang orang yg kita cintai..

  2. menurut saya ceritanya cukup bagus dan saya ingin bertanya lebih senang usaha sendiri sampai sukses atau di bantu orang sampai sukses?
    #kalau usaha sendiri belum tentu sukses dan mungkin sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama

Leave a Reply

*